Press "Enter" to skip to content

Baihajar Tualeka; Menghidupkan Ekonomi Para Pengungsi

Kerusuhan Ambon 1999 menyisakan luka mendalam. Baihajar termasuk yang menjadi korbannya, la sempat menjadi pengungsi. Namun ia bangkit, bahkan mengajak para perempuan untuk berdaya dengan membangun ekonomi. Baihajar juga merekat perempuan Muslim -Kristen, bersama-sama meretas perbedaan melalui pendidikan.

Baihajar, lulusan Pertanian Universitas Pattimura mengenang saat hidup dalam kamp pengungsian. Tidak memiliki privasi, tidak ada sarana umum, lingkungan yang kumuh, dipaksa tidur di lantai di mana banyak laki-laki memaksa istri-istri mereka untuk melakukan hubungan seks meski ada anak-anak yang mungkin belum atau pura-pura tidur lelap. Belum lagi menyaksikan sekelompok anak-anak membawa bom molotov.
Ekonomi makin hari makin sulit. Anak-anak putus sekolah, menderita diare, kurang gizi dan terserang TBC. Di kamp pun tidak ada aktivitas, hanya duduk-duduk muram mengenang harta benda yang habis. Gelisah dengan kondisi itu, Baihajar mencoba bangkit.

Awalnya ia memulai sendiri dengan berjualan bubur ketan hitam dan asongan di atas kapal. Lalu pelan-pelan menyemangati temannya agar bangkit dan memulai kehidupan meski dengan mengasong. Ternyata berhasil. Satu dua mulai mengikuti, hingga tiba-tiba berbondong-bondong berjualan di atas kapal. Setelah banyak yang mengasong, ia menarik diri, tidak mengasong lagi. Itulah awalnya Baihajar menjadi teman dalam komunitas.

Baihajar kemudian beralih mereneanakan membangun warung sebagai tempat nongkrong anak-anak muda yang berinisiatif untuk perdamaian. la juga menggunakan hasil jualannya untuk memodali perempuan yang mau berjualan.

Pada saat itu belum bisa dikatakan damai sepenuhnya, namun bersama beberapa teman Baihajar memberanikan diri menghidupkan pasar tradisonal, melakukan transaksi sayuran dengan komunitas lain, termasuk mengajak komunitas perempuan Kristen hingga lahirlah kelompok SANUSA (Saniri (perkumpulan) Satu Rasa) untuk menumbuhkan nilai-nilai “kasih” dan membagi duka. Slogan Sanusa “DUKAMU-DUKAKU, SUSAHMU-SUSAHKU”; saat engkau menangis mengeluarkan air mata, aku pun menangis bersamamu. Slogan yang dibuat untuk menyemangati diri agar mulai bangkit dan membagi perasaan.

Pada 2006, sekitar 600 perempuan menjadi anggota koperasinya. SANUSA bisa memberikan pinjaman modal antara 50 ribu hingga 10 juta buat anggotanya. Sayang tahun 2011 terjadi konflik lagi yang membuatnya terpaksa menutup koperasinya. Kini ia konsentrasi pada sekolah pengungsi. Sekolah alternatif buat anak-anak pengungsi belajar toleransi dan perdamaian.

Setelah sepuluh tahun berselang, “Kami fokus ke PAUD saja, untuk anak usia 3-5 tahun, dengan program Imiami. Imi artinya “kalian yang berbeda dari suku bangsa, budaya, agama dan sebagainya,” dan ami artinya “kami juga berbeda….dst tapi kita memiliki ikatan kebersamaan, menghormati dan menghargai, untuk diinternalisasikan ke dalam diri dan lingkungan.” (*)

Sumber: Majalah Wanita Kartini, Edisi Perempuan Inspiratif, April 2012