Press "Enter" to skip to content

Bale Istri: Tempat Bernaung dan Berbagi

Rumah Kedua Perempuan Pabeyan

Langit pagi terlihat cerah di Pabeyan, kampung kecil di Desa Cipaku. Desa dengan jumlah penduduk 14.752 jiwa ini terletak di Kecamatan Paseh yang berjarak 29 km dari pusat pemerintahan Kabupaten Bandung. Cahaya matahari pagi di sela pepohonan terlihat di permukaan air sungai; suara riak airnya sesekali diselingi suara derap kuda dan roda delman yang membawa para penumpang melewati jalan utama desa.

Jalanan di pagi hari masih lengang, yang terlihat hanya ada anak-anak sekolah yang berjalan kaki dan pengembala yang menggiring domba. Nun jauh di pematang sawah, satu-dua perempuan paruh baya dengan topi dan baju khas buruh tani, berjalan melewati dan bertegur sapa dengan para pekerja yang sudah bersiap menggarap lahan pertanian dan perkebunan milik orang lain.

“Upami bade kadieu mah, naek keretek (jika mau ke sini, kendaraannya naik delman), kata Ceu Iyoh (67), warga Kampung Pabeyan. Dengan keranjang berisi sayuran mentah dan gorengan titipan warung, Ceu Iyoh berkeliling menjajakan dagangan, menyusuri pematang sawah menuju kampung lain.

Ketika hari menjelang siang, tampak ibu-ibu berjalan beriringan di tepi jalan. Terlihat lagi Ceu Iyoh diantara para ibu dan beberapa remaja perempuan, berjalan melewati jalan setapak menuju bale, sebuah bangunan kecil tempat berkumpul ibu-ibu warga setempat. “Hari ini pertemuan rutin bulanan Bale Istri Paseh,” ucap Sugih Hartini (37), salah satu perempuan yang ikut hadir dalam pertemuan tersebut.

“Di bale ini, ibu-ibu rumah tangga hampir semua tamatan SD, tapi gak minder. Semua berbagi informasi, mendata kasus kekerasan terhadap perempuan, ibu hamil dan balita, curhat[1] dan diskusi. Bale ini juga tempat bagi ibu-ibu dan remaja putus sekolah yang ingin belajar membaca. Sesekali diagendakan pemateri untuk berdiskusi tentang kesehatan reproduksi dan memberikan pendidikan keterampilan kewirausahaan,” papar ibu tiga orang anak ini sambil tersenyum.

Mereka bersalaman, duduk berkumpul dan berbincang. Mereka diikat oleh harapan dan pengalaman yang sama. Ceu Iyoh dan Bu Sugih adalah dua orang perempuan dari tak sedikit perempuan di desa ini yang mempunyai pengalaman pahit menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Tak dinyana, desa yang teduh ini demikian kontras dengan catatan hitam masalah kekerasan terhadap perempuan masalah yang kemudian terbaca ketika dicatat dan terdengar ketika disuarakan oleh para perempuan yang hadir di komunitas ini.

“Tahun 2012, Bale Istri bersama Sapa Institut berhasil menangani134 kasus KDRT, kasus trafficking dan kekerasan seksual. Tahun 2013 sebanyak 85 kasus. Tahun 2014 sebanyak 66 kasus. Tahun 2015, bulan Januari-Oktober, Bale Istri menangani 49 kasus. Kasus-kasus tersebut tidak hanya ditangani di kecamatan Paseh saja, tetapi ditangani di kecamatan lainnya,” papar Yeni, pendamping kasus dari Bale Istri.

Bersama perempuan-perempuan lainnya di bale, para korban KDRT, pernikahan dini dan korban kekerasan seksual di desa ini, mulai mengerti bahwa mereka tidak sendirian.Mereka masih punya masa depan yang layak diperjuangkan. Mereka mulai sadar bahwa selama ini ada rantai masalah besar yang mesti mereka putuskan bersama dan sampaikan agar perempuan-perempuan lainnya tak mengalami hal yang sama.

Bale kini menjadi pusat informasi, komunikasi, pendidikan dan pendampingan bagi anggota komunitas. Bersama komunitas, para korban mengakui, tak hanya memiliki pengetahuan yang lebih luas, tetapi juga merasa ada perlindungan dari sesama perempuan yang memiliki harapan dan semangat yang sama. “Bale merupakan tempat yang nyaman bagi kami para perempuan yang pernah jadi korban dan punya trauma. Komunitas seperti rumah kedua bagi kami,” ungkap Bu Sugih yang selalu berkaca-kaca jika bercerita tentang perjalanan hidupnya.

Napak Tilas Komunitas

Tahun 2006, tiga orang mahasiswa berkunjung ke kampung Pabeyan. Mereka berjalan kaki mengelilingi perkampungan, mengetuk pintu-pintu rumah, bersilaturahim dan berbincang dengan para kader. Perbincangan ringan tentang aktivitas keseharian masyarakat berujung adanya inisiatif untuk mengadakan perkumpulan disela pengajian di mesjid dan madrasah. Di pengajian rutin itu, dua kali dalam seminggu, para mahasiswa memberikan materi tentang kesehatan reproduksi dalam perspektif Islam.

Tak hanya memberikan materi, beberapa hari kemudian, para mahasiswa mengajak beberapa ibu berkumpul untuk bersama-sama belajar bertani, menanam kangkung, daun bawang dan lainnya, meski hanya sedikit ibu-ibu yang mau terlibat. Sayangnya, kegiatan tersebut hanya berlangsung kurang dari 1 bulan karena gagal akibat kemarau. Beberapa hari lamanya, para ibu tidak lagi bersemangat pada kegiatan tersebut. Kemudian ada ide baru untuk memproduksi makanan berupa sistik, seblak dan keripik. Bahkan, para mahasiswa memberi bantuan peralatan dan modal dasar. Namun, produksi olah makanan juga gagal dikarenakan kenaikan harga-harga bahan pokok yang melonjak tinggi dan kurangnya kekompakan para ibu dalam manajemen keuangan dan pengelolaan produksinya. Beberapa minggu lamanya, para ibu rumah tangga tak lagi melakukan kegiatan bersama para mahasiswa.

Tak lama kemudian, Sri Mulyati, salah seorang dari ketiga mahasiswa, kembali mengunjungi Pabeyan dan melakukan penelitian tentang isu-isu perempuan di kampung tersebut. Dari hasil penelitiannya, Sri menemukan fakta bahwa di Pabeyan menyimpan banyak kasus kekerasan dalam rumah tangga yang masih tersembunyi rapat dan diabaikan. Keesokan harinya, Sri mengajak kawan-kawannya menemui Hojanah (62), ustadzah di madrasah Pabeyan. Mereka bermaksud meminta izin meminjam tempat untuk mengadakan pelatihan.

Sri bersyukur, Bu Hojanah mengijinkan madrasah yang biasa digunakan untuk pendidikan anak-anak PAUD kepada Sri dan kawan-kawannya untuk melakukan sosialisasi dan pelatihan pendidikan adil gender. Kegiatan sosialisasi dan pelatihan tersebut bukan tanpa hambatan. Di awal ada beberapa ketidakpercayaan dan kecurigaan masyarakat pada aktivitas Sri dan kawan-kawan menempa tak henti; kecurigaan aliran sesat, komunis, LDII dan lain-lain.

Namun, dengan pendekatan dan komunikasi yang intensif, kecurigaan-kecurigaan tersebut perlahan hilang. Kejadian tersebut justru membuat Sri dan kawan-kawan lebih semangat. Di kemudian hari, Sri dan kawan-kawan lebih intensif menyosialisasikan isu-isu perempuan melalui pertemuan masyarakat dan pengajian yang biasa dipimpin oleh Bu Hojanah. “Moment penting dan mengharukan bagi kami pada saat itu adalah kami akhirnya bisa mengumpulkan pertama kalinya para tokoh masyarakat, tokoh agama dan masyarakat Pabeyan di ruang yang lebih leluasa, tidak lagi di rumah kontrakan yang sempit,” kenang Sri.

Akhirnya, setahun kemudian, Sri dan kawan-kawan mengadakan pertemuan yang dihadiri berbagai elemen masyarakat. Pada kesempatan itu, mereka menginformasikan berdirinya Sapa Institut, 25 Juni 2007 dan Sri ditunjuk sebagai direkturnya. Selanjutnya, Sapa mengorganisir perempuan yang tidak bisa baca tulis untuk mengikuti program Keaksaraan Fungsional (KF), program belajar baca tulis rutin dengan tutor relawan-relawan dari Sapa Institut.

“Kami mengintegrasikan program Keaksaraan Fungsional dengan pengajaran nilai-nilai adil gender,” ujar Sumiati, salah satu pendamping dari Sapa Institut. “Para peserta yang terdiri dari ibu-ibu dan anak remaja putus sekolah mengikuti proses belajar rutin ini dengan sangat antusias, meski sedikit agak malu-malu dan susah paham,” imbuhnya.

Kegiatan selanjutnya, Sapa Institut mendata ibu-ibu dan mengadakan pelatihan tentang adil gender dan kesehatan reproduksi di Local Education Center (LEC) Cicalengka selama 2 hari 1 malam. Sebagai tindak lanjut dari pelatihan tersebut, dibentuklah komunitas Bale Istri di akhir tahun 2007 dan para ibu mulai menyusun struktur kepengurusannya.

Sebagai Ketua, saat itu terpilih Bu Hojanah dan Bu Neneng terpilih sebagai Wakil Ketua. Selaku bendahara, terpilih Nenden dan Yati. Sekretaris Bale Istri, terpilih Ani. Untuk divisi pendidikan, dipegang oleh Bu Aah. Di bidang informasi dan komunikasi ada Bu Ani dan Divisi pendampingan untuk kasus KDRT dan bidang Kesehatan Reproduksi ditangani oleh Agah Soyiganati.

“Nama komunitas tersebut sekaligus menjadi filosofi utama, yakni Bale Istri, yang jika diterjemahkan bebas dari bahasa Sunda menjadi ‘tempat berteduh bagi perempuan’,” ujar Sumiati.

Melayani Kaum Perempuan

Sejak berdirinya Bale Istri, anggota komunitas kemudian mengagendakan kegiatan dan pertemuan rutin. Mereka membuka pusat layanan berbasis komunitas, berdiskusi dan mendata secara sederhana pelbagai permasalahan perempuan di desanya. Termasuk di dalamnya, mendata ibu hamil sampai mendampingi persalinannya.

“Letak geografis Kabupaten Bandung yang sebagian besar wilayah pegunungan berdampak pada persoalan biaya yang mahal, jarak yang jauh, kondisi jalan yang rusak dan sulitnya alat transportasi ke tempat pelayanan kesehatan. Kondisi ini membuat masyarakat, khususnya perempuan di Kabupaten Bandung kesulitan untuk memperoleh akses informasi dan layanan kesehatan reproduksi. Akibatnya, angka kematian ibu sangat tinggi,” papar Sri.

Selain pendampingan bagi ibu hamil, para anggota komunitas juga mendampingi korban KDRT di sekitar mereka. Tujuannya untuk bisa menolong dan menangani kasus-kasus para korban KDRT. Tak sedikit anggota komunitas yang menjadi korban KDRT. Para anggota komunitas membuka ruang curhat dan diskusi seputar KDRT.

Mereka bicara dan saling mendengarkan. Mereka akhirnya tahu kisah YH (29 tahun). Ia ditendang suami hingga tulang punggungnya patah dan menjadi bongkok. Perempuan yang menikah di bawah usia 17 tahun itu meninggal dalam persalinan bersama anak yang dilahirkannya. Mereka kini mengaku sadar dan sedih mengingat dan mendengar cerita istri yang dipukuli, ditampar, disiksa, diperkosa di bawah ancaman benda tajam, ditelantarkan tanpa status yang jelas, serta dijadikan penjaja seks komersial oleh suami yang seharusnya melindunginya.

Pengetahuan, naluri dan analisis para ibu di Bale Istri mengenai isu KDRT semakin meningkat. Mereka secara perlahan mulai paham bahwa kasus KDRT tidak hanya kekerasan fisik seperti memukul dan menampar yang selama ini mereka tahu, tetapi juga kekerasan psikis, seksual dan penelantaran ekonomi. Dari pemahaman tersebut, akhirnya beberapa anggota mulai terbuka memberikan informasi dan mulai bebas mengutarakan tanpa beban kasus-kasus KDRT yang selama ini sedang dan sudah terjadi pada dirinya, keluarga dan tetangganya.

Setelah mendapatkan data atau informasi lengkap tentang kasus yang terjadi dari berbagai pihak, para pendamping di Bale Istri kemudian saat itu belajar melakukan semacam investigasi. Upaya tersebut dilakukan dengan menggali informasi kasus langsung kepada penerima layanan (korban); menanyakan kepada masyarakat setempat dan menanyakan pada keluarga korban.

Investigasi dan pendekatan melalui keluarga atau masyarakat terdekatnya secara intensif dilakukan para pendamping. Jika ada korban KDRT dalam keadaan darurat dan membutuhkan penanganan segera, anggota komunitas membawa langsung korban untuk ditangani secara medis ke layanan kesehatan.

Persyaratan untuk ke rumah sakit, secara aktif para pendamping bekerjasama dengan pelbagai pihak untuk memfasilitasi mengurus surat-surat yang dibutuhkan. Untuk para korban yang membutuhkan keamanan, anggota komunitas bersama keluarga segera membawa ke rumah aman sementara di rumah saudaranya atau rumah pendamping.

Para pendamping kemudian melakukan diskusi dan analisis kasus untuk mendapatkan solusi pelayanan yang dibutuhkan korban. Setiap informasi kasus KDRT yang sudah tergali dan tercatat dalam setiap pertemuan komunitas, kemudian ditindaklanjuti.

Menggali lebih objektif dan menindaklanjuti kasus KDRT tentu tidak mudah. “Kebanyakan warga menganggap itu mah urusan rumah tangga masing-masing sehingga warga tertutup dan melarang ikut campur. Mereka tahu ada KDRT, tapi mereka diam dan tidak melaporkannya ke kami di Bale Istri atau pihak berwenang. Bahkan, hambatan lainnya, ada ancaman dari pelaku KDRT, baik kepada korban maupun pendamping,” ungkap Agah Soyiganati (57), pendamping dari Bale Istri.

Menurut para pendamping, benturan dengan keluarga korban salah satu hambatan serius penanganan kasus, atau biasanya para korban pun menutup diri dan tak menerima kehadiran orang lain sekalipun itu akan membantu masalah yang dialaminya. Hal tersebut menyulitkan pendamping untuk mencatat kronologis kejadian.

Namun tindak lanjut dan penanganan setiap kasus KDRT tetap dilakukan secara bertahap dengan berbagai upaya. Ada yang diselesaikan secara kekeluargaan, cukup mediasi oleh pendamping saja; dilakukan pendampingan konseling dan mediasi di tingkat keluarga. Jika tidak bisa ditangani ditingkat pendamping Bale Istri, maka dibutuhkan kerjasama dengan pihak Sapa Institut dan aparat setempat serta lembaga lain yang melakukan penanganan kasus. Ini terutama untuk kasus yang ditangani secara hukum.

Perkembangan setiap kasus dievaluasi dan didiskusikan oleh para pendamping. Jika korbannya dari anggota Bale Istri maka ia akan dilibatkan dalam pertemuan rutin komunitas. Jika korban di luar atau belum bergabung di Bale Istri, maka secara rutin didatangi oleh pendamping bersama tetangga dan keluarganya. Dalam hal ini, peran pendamping adalah memberikan bantuan psikologis untuk memulihkan kondisi psikisnya.

Adanya komunitas yang peduli pada kasus-kasus perempuan membuat setiap informasi kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan kini menjadi masalah yang harus diungkap dan ditangani, termasuk kasus-kasus kekerasan seksual. “Sebelum berdirinya Bale Istri, kasus-kasus kekerasan seksual yang terjadi disekitar wilayah kecamatan Paseh tidak tercatat, tidak terlaporkan, apalagi sampai diproses ke pengadilan,” ujar Yeni Mulyani dari Bale Istri.

Menurutnya, korban dan keluarga bingung untuk melapor, takut dan tak paham bagaimana mengurus ke polisi karena ancaman keluarga pelaku dan tidak adanya pendampingan. Menghadapi kondisi seperti ini, Bale Istri gencar melakukan sosialisasi kenali dan tangani kekerasan seksual melalui berbagai media. “Sosialisasi ini dilakukan agar masyarakat mengenali dan peduli untuk melaporkan kasus kekerasan seksual yang terjadi disekitarnya, baik ke polisi atau ke Bale Istri dan Sapa Institut,” imbuhnya.

SSP (13 tahun) adalah salah seorang korban kekerasan seksual yang berhasil didampingi oleh Bale Istri. Anak yang masih sekolah di bangku SMP swasta di daerah Paseh ini adalah korban pemerkosaan oleh ayah tirinya hingga hamil. Bale Istri mengetahui kasus ini dari laporan tetangga korban. Menindaklanjuti laporan tersebut, pendamping kasus dari Bale Istri menemui dan mendampingi korban, kemudian berkoordinasi dengan aparat RW setempat untuk menjerat pelaku.

Bale Istri menemani dan mendampingi korban sampai proses BAP. Setelah itu, korban dibawa ke rumah aman dan mendapatkan pendampingan psikologis untuk memulihkan traumanya. Dalam penanganan dan pendampingan kasus, selain proses pemulihan psikis korban di internal komunitas, acapkali Bale Istri berjejaring dan berbagi peran dengan lembaga lain untuk menyediakan rumah aman dan konseling bagi korban dan keluarga korban.

Tentu saja, bukan upaya mudah merangkul korban kekerasan serta perlahan mengajak mereka pada proses pemulihan dan survive menjadi bagian dari komunitas. Para pendamping secara konsisten menemani dan mendampingi korban untuk merajut harapan baru di kehidupannya. Korban yang dianggap sudah selesai dalam penanganannya diajak kembali percaya diri, dihargai dan dilibatkan pada setiap aktivitas komunitas, baik di pertemuan rutin, kegiatan outbond, program pemberdayaan ekonomi sampai terlibat dalam pendampingan kasus.

Pemberdayaan Ekonomi

Untuk mengajak perempuan korban kekerasan bersosialisasi dengan komunitas, para korban dilibatkan dalam kegiatan pemberdayaan ekonomi. Untuk mendapatkan penghasilan tambahan, para korban bersama anggota komunitas belajar keterampilan mengolah limbah plastik untuk diolah kembali menjadi barang yang bisa dijual. Salah satu keterampilan yang ditekuni para ibu adalah mengumpulkan bungkus kopi dan mengolahnya menjadi dompet. Karya olah limbah tersebut dijual dengan harga Rp 30.000. Satu buah dompet bisa diselesaikan dalam waktu sebulan.

Selain keterampilan olah limbah, Bale Istri membuat “kencleng Bale Istri” yang digunakan komunitas untuk menabung dengan jumlah nominal sukarela. Dalam dua minggu, kencleng itu dikumpulkan guna dipakai untuk modal bersama dalam bentuk koperasi untuk membiayai keperluan komunitasnya. Sebagian uang tersebut juga digunakan untuk memberdayakan perempuan yang menjadi korban KDRT.

Di setiap pertemuan rutin, para anggota komunitas menggali keahlian dan potensi keterampilan anggota Bale Istri, khususnya korban-korban KDRT. Dengan bantuan modal dan pendampingan, tak sedikit para korban KDRT yang mulai berwirausaha kecil-kecilan setelah mendapatkan pendidikan dan keterampilan kewirausahaan. Ada yang memilih berjualan pakaian keliling untuk mencukupi kebutuhannya secara mandiri; ada juga yang menekuni olah makanan ringan, kue dan kerajinan olah limbah. Mereka mulai bangkit dan optimis menatap masa depan.

Ceu Iyoh, korban KDRT, kini berjualan sayuran milik warung-warung di kampung Pabeyan, untuk menafkahi hidup sehari-harinya. Meskipun penghasilannya kecil, tapi tetap punya harapan. Seperti halnya Ceu Iyoh, Sugih Hartini, kini ia telah sukses berwirausaha makanan ringan. Malah ia kini giat menjadi pendamping Bale Istri. Ia kini telah pulih dari trauma KDRT. Trauma perlakuan buruk suami dan kisah pahit perceraian saat ia hamil sempat membuatnya depresi.

Sugih mengatakan, saat kedatangan Bale Istri dan Sapa Institut pada kehidupanya ia anggap hanya memperkeruh suasana saja. Ia kesal jika orang-orang ikut campur dalam urusan rumah tangganya. “Saat itu saya sulit menerima kehadiran orang baru, yang ada hanya bisa marah-marah saja. Pendekatan Bale Istri dan Sapa Institut membuat saya perlahan terbuka. Kini saya sudah move on,” ucap Sugih. Dengan bantuan ketiga anaknya, kini Bu Sugih mendapatkan penghasilan dari produksi makanan keripik singkong yang ia olah dan kelola sampai saat ini. Bahkan, pada tahun 2014, Sugih mendapatkan penghargaan Sabilulungan Award dari Bupati Bandung sebagai Penggerak Usaha Kreatif dan Pemberdayaan Perempuan.

Kisah pilu juga terjadi pada Aas Siti Aminah dan Cucu Rosmiyati, kakak beradik yang mendapatkan kekerasan fisik dan penelantaran ekonomi semasa mengasuh anaknya yang masih berusia bulanan. Keduanya ditelantarkan oleh para suami yang bekerja di luar kota, tanpa komunikasi dan kiriman uang. Bersyukur mereka kini mendapat dorongan dari para anggota Bale Istri. Di sana mereka mendapat keterampilan berwirausaha dan kini keduanya memilih berjualan pakaian keliling.

Perempuan-perempuan korban KDRT lainnya menjadikan komunitas salah-satunya sebagai tempat berbagi ide untuk berwirausaha. Selain mendapat bantuan modal dari koperasi komunitas dan mendapatkan pelatihan keterampilan dan kewirausahaan, mereka pun mendapatkan semangat hidup dari teman-temannya di komunitas.

Inspirasi dan Aksi

Pusat layanan berbasis komunitas Bale Istri di Kecamatan Paseh terus berkembang, bergerak dan perlahan meluas. Para anggota komunitas secara rutin menyosialisasikan KDRT di pengajian-pengajian lintas RW, di pengajian-pengajian di luar lingkungan Bale Istri, melalui Sub PKK di desa Cipaku Kecamatan Paseh, dan secara perlahan merangkul pemerintah setempat, tokoh agama dan tokoh masyarakat. Perjuangan Bale Istri di Paseh menyuarakan dan menyosialisasikan waspada KDRT meluas hingga lintas desa dan kecamatan.

Cakupan layanan pun meluas, tidak hanya melayani dan mendampingi korban di kampung Pabeyan saja, tetapi di kampung dan desa lain. Hal tersebut memunculkan hambatan yang lebih luas dan berat. Kadang ajakan sosialisasi tidak direspon bahkan ditolak, intimidasi dan antipati dari beberapa kalangan tertuju ke Bale Istri. Namun kemudian, Bale Istri di Paseh menjadi inspirasi desa lainnya hingga terbentuknya Bale Istri lain di beberapa kecamatan.

Sebanyak 5 kecamatan yang kemudian ikut mendirikan Bale Istri, yaitu kecamatan Pangalengan, Pacet, Ciparay, Majalaya dan Arjasari. Dari 6 kecamatan, 10 desa telah membentuk Bale Istri sebagai pusat layanan komunitas untuk pendidikan, informasi, komunikasi dan pendampingan perempuan. Bale Istri di semua wilayah dibentuk untuk mendorong kesehatan reproduksi perempuan, pencegahan kekerasan domestik, serta pemberdayaan ekonomi perempuan.

Setiap komunitas Bale Istri di berbagai wilayah membuat agenda diskusi-diskusi dan pelatihan-pelatihan berjenjang untuk meningkatkan pengetahuan anggota Bale Istri tentang persoalan perempuan. Selain diskusi dan pelatihan, Bale Istri kemudian menyampaikan persoalan perempuan melalui pendidikan komunitas dan sosialisasi media informasi di masyarakat.

Bersama Sapa Institut, Bale Istri menerbitkan brosur, buletin, majalah, leaflet, stiker dan media lainnya untuk menyosialisasikan isu-isu terkait masalah perempuan. Secara konsisten, Bale Istri di wilayah masing-masing melakukan pendampingan terhadap perempuan rawan sosial, yaitu ibu hamil, melahirkan dan pasca melahirkan (40 hari) serta perempuan korban kekerasan. Setiap satu tahun, diadakan forum komunikasi Bale Istri yang menghadirkan semua anggota komunitas Bale Istri dari semua wilayah.

Di akhir tahun 2009, diadakan diskusi publik yang diselenggarakan oleh Sapa Institut dengan menghadirkan anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI Rieke Diah Pitaloka. Acara tersebut ditutup dengan serah terima pemberian ijasah paket A untuk peserta baca tulis Bale Istri dan pemberian hadiah dan piagam untuk Bale Istri terbaik. Bale Istri Paseh terpilih menjadi Bale Istri Terbaik diantara 5 Bale Istri lainnya. Bale Istri Paseh mendapat hadiah berupa uang sebesar Rp.300.000. Semua anggota sepakat, uang tersebut dijadikan modal untuk usaha simpan pinjam untuk seluruh angota Bale Istri di Paseh.

Dalam perjalanannya, Sapa Institut melibatkan Bale Istri untuk secara aktif mengkaji dengan kritis dan memberi masukan pada kebijakan-kebijakan pemerintah; salah-satunya, terlibat dan mendorong disahkannya perda Kesehatan Ibu, Bayi Baru Lahir, Bayi dan Anak Balita (KIBBLA). Bale Istri dari pelbagai wilayah, diantaranya perwakilan Bale Istri Paseh, Arjasari dan Pacet, bertemu dengan komisi D DPRD Kabupaten Bandung untuk membahas draft Perda KIBBLA. Debat fraksi PKS, PDI, Golkar dan PPP terjadi hingga sampai sebanyak 5 kali sebelum disahkannya perda KIBBLA tahun 2008.

Saat itu, dengan gembiranya, Bale Istri Paseh mengabarkan kepada kades Cipaku bahwa Kabupaten sudah mensahkan perda KIBBLA. Mereka berharap pihak desa bersedia untuk bersama-sama mendorong perda KIBLLA menjadi Peraturan Bupati (Perbup) KIBBLA. Namun, saat itu tidak ada tanggapan apapun dari pihak desa.Pantang menyerah, mereka berkunjung ke pertemuan sub PKK dan kelompok-kelompok lainnnya, tetapi tetap tidak ada tanggapan.

Namun, upaya mendorong perda KIBLLA menjadi perbup KIBBLA terus dilakukan dengan mengupayakan dukungan dari pelbagai pihak. Berkat kegigihan mengawal agenda Perbup, Perbub akhirnya disahkan pada tahun 2010. Saat itu Bale Istri terlibat untuk menghadiri ketuk palu.

Setelah disahkannya Perbup KIBBLA, barulah pihak desa dan kecamatan memberi respon positif. Bale Istri gembira, karena Perda dan perbup KIBBLA berkontribusi mendorong lahirnya program Jaminan Persalinan (Jampersal) pada tahun 2011 dari pemerintah pusat yang diharapkan mampu menekan Angka Kematian Ibu dan Bayi (AKI-AKB).

Anggota komunitas Bale Istri sebagai elemen masyarakat berkewajiban untuk memantau implementasi perda dan perbup KIBBLA. Pemantauan dilakukan melalui pendataan jumlah ibu melahirkan di fasilitas kesehatan, jumlah bayi meninggal, jumlah ibu meninggal melahirkan untuk kemudian dijadikan data untuk mengontrol inplementasi perda KIBBLA.

Setelah adanya Jampersal, tersedia layanan gratis untuk ibu melahirkan dari semua kalangan masyarakat. Bahkan, semua pelayanannya harus mendukung pada kenyamanan pasien, diantaranya pelayan harus memberikan salam, senyum, sapa dan sayang. “Bersyukur, setelah ada Perbup KIBBLA, pelayanan sudah berubah, jadi semakin baik. Jika ada yang mendapatkan layanan yang tidak sesuai dengan yang diharapkan masyarakat mah, kita langsung lapor aja,” ungkap Agah Soyiganati.

Mimpi dan Kemanusiaan

Sri Mulyati memimpikan Bale istri bisa menjadi garda terdepan yang memiliki andil besar untuk memperjuangkan perempuan dari segala bentuk kekerasan dan diskriminasi. Kelak, Bale Istri juga harus menjadi kekuatan politis yang dapat menentukan arah kebijakan pembangunan di Kab. Bandung yang berkeadilan gender.

Untuk mewujudkan impian itu, komunitas Bale Istri Paseh bersama Bale Istri dari wilayah lainnya secara intensif tetap melayani kaum perempuan di lingkungannya dan membangun kemitraan baik dengan pemerintah dan swasta. Bale Istri melakukan diskusi atau sharing informasi dengan PKK Desa dan Kecamatan, Bidan Desa, Unit Pelayanan Terpadu Kecamatan, Dinas Sosial Kabupaten Bandung dan lainnya terkait isu-isu perempuan.

Pergumulan isu dan perkembangan masalah perempuan di perdesaan yang menjadi basis Bale Istri, menerbitkan gagasan pentingnya dibentuk Bale Remaja pada Tahun 2009. Bale Remaja, dengan anggota remaja perempuan dan laki-laki, diharapkan menjadi tempat remaja membicarakan dan mendiskusikan persoalan-persoalannya pernikahan dini di desanya. “Rata-rata perempuan di Paseh menikah pada usia 15 tahun. Jadi, perlu ditingkatkan kembali sosialisasi bahaya pernikahan pada usia dini pada remaja,” Agah Soyiganati.

Selain pernikahan dini, remaja di komunitas juga mendiskusikan hak seksual dan kesehatan reproduksi, hingga masalah kekerasan di kalangan remaja. Selain diskusi dan pelatihan, remajapun terlibat dalam pengembangan keterampilan membuat kreativitas seni dan produk-produk kreatif.

“Remaja paling rentan menjadi korban kekerasan seksual, maka perlu dibentuk Bale Remaja. Remajapun secara aktif mendata dan memberikan informasi terkait kasus-kasus kekerasan seksual baik di sekolah dan di desanya. Terkait kasus-kasus KDRT yang ditangani Bale Istri, Bale Remaja juga melakukan pendekatan terhadap anak korban KDRT, untuk dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan Bale Remaja,” ujar Enna Siti Rohmah, pendamping komunitas Bale Remaja.

Tak hanya melibatkan remaja, Bale Istri melibatkan laki-laki dalam menyelesaikan persoalan kesehatan reproduksi dan KDRT. Pentingnya keterlibatan laki-laki untuk mendukung perjuangan Bale Istri menghadirkan gagasan untuk mendirikan Bale Laki-laki pada tahun 2010, yang berkomitmen mendukung gerakan Bale Istri untuk pemenuhan hak-hak seksual dan reproduksi. Bahkan, di beberapa wilayah, tak sedikit laki-laki ikut membidani lahirnya Bale Istri.

Bale Laki-laki adalah komunitas laki-laki untuk perubahan yang latar belakangnya aparat desa, tokoh agama, aparat KUA dan tokoh masyarakat. Dengan adanya Bale Laki-laki diharapkan laki-laki bisa melakukan proses penyadaran pada laki-laki lainnya, bahwa persoalan ibu dan anak bukan semata tanggung jawab perempuan. Bila Bale Laki-laki bisa berjalan, diharapkan akan menjadi support group bagi Bale Istri yang akan memperkuat Bale Istri untuk mengkampanyekan isu-isu kekerasan dan pemenuhan hak seksual dan kesehatan reproduksi.

“Bale Istri, Bale Laki-laki dan Bale Remaja bekerjasama dalam penanganan kasus kekerasan di kecamatan Paseh maupun di kecamatan lainnya. Dalam penanganan dan pendampingan kasus oleh Bale Istri, Bale Laki-laki melakukan penjangkauan melalui penanganan dan pendekatan terhadap pelaku KDRT dan kekerasan seksual. Sedangkan Bale Remaja melakukan pendekatan terhadap korban kekerasan seksual,” papar Sumiati, dari Sapa Institut.

Tahun 2012, Dinas Sosial menawarkan kerjasama untuk memberikan modal pemberdayaan ekonomi untuk para korban kekerasan melalui Sapa Institut. Ada 10 orang penerima manfaat dari anggota Bale Istri Paseh. Penerima manfaat menggulirkannya untuk usaha, ternak domba, ternak bebek, jualan perabotan, jualan pakaian, kreditan, dan olah makanan yang dibimbing oleh para pendamping. Kemudian pada tahun 2013, Bale istri Paseh mendapatkan penghargaan dari Bupati Bandung sebagai penggerak Pendampingan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

Tahun berikutnya, anggota Bale Istri mendapatkan banyak pelatihan, diantaranya olah makan dan perikanan serta pertanian. Kini anggota Bale Istri masuk menjadi Kelompok Wanita Tani (KWT) dan difasilitasi untuk mendapatkan PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga) untuk produk makanan ringan. Tak hanya itu, Bale Istri Paseh pun mendapatkan bantuan bibit ikan dari pihak terkait.

Tak kalah menggembirakan, anggota komunitas Bale Istri Paseh mendapatkan penghargaan dari Bupati yang diserahkan pihak kecamatan untuk kategori pidato terbaik tentang pencegahan KDRT. “Kami senang bisa berubah. Dulu mah susah bicara teh, kini mah jadi berani dan juara pidato; malahan sudah pernah duduk bareng di gedung DPR dengan dewan pusat,” ucap Agah Soyiganati melepas tawa.

Ia senang, Bale Istri kini sudah diakui banyak pihak. Bukan berarti masalah dan tantangan dengan serta-merta selesai. Masih banyak kasus-kasus KDRT dan kekerasan seksual terjadi, bak jamur di musim penghujan; masih banyak korban yang harus ditolong; masih banyak kaum perempuan yang harus diselamatkan; masih banyak hambatan dan tantangan menghadang. Namun, perempuan-perempuan di Bale Istri Paseh ingin terus bekerja membantu sesama tanpa pamrih, meski tanpa penghargaan dari pemerintah. Mereka mengatakan seperti sering dikutip Bale Istri dari wilayah lainnya bahwa nilai kemanusiaan yang membuat kami terus bekerja. Ya, nilai kemanusiaan yang membuat kita tetap bekerja. * (Badru Tamam Mifka)

 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *