Press "Enter" to skip to content

Hojanah; Sosialisasi PKDRT Lewat Ceramah

Sosialisasi PKDRT (Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga) sangat penting. Bagi Hojanah (57), yang aktivitas kesehariannya konsen sebagai ustadzah dalam setiap pengajian, mensosialisasikan PDKRT lewat ceramah menjadi sangat efektif. Apalagi kegiatan Ibu yang sudah punya lima anak ini tak luput mendapat dukungan dari suami tercinta. Selain sebagai penceramah beliau juga berperan sebagai tempat pengaduan permasalahan masyarakat sekaligus sebagai guru rohani dilingkungannya. Hampir setiap hari ada yang datang mengadukan permasalahannya dan meminta solusi kepadanya.

Permasalahan yang muncul kebanyakan masalah keluarga khususnya yang berhubungan dengan perempuan dan anak. Ada masalah kekerasan dalam rumah tangga, yang dipicu oleh kurangnya ekonomi keluarga bahkan karena pendidikan perempuan yang rendah menjadi masalah yang dihadapinya sehingga korban merasa rendah diri dan direndahkan oleh masyarakat bahkan tidak jarang oleh orang tuanya

Untuk memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam mengatasi masalah ekonomi beliau mendirikan GEMA NUSA yang diadopsi dari Aa Gym semacam koprasi untuk memberikan pinjaman kepada masyarakat yang membutuhkannya. Pinjaman tersebut di dapat dari patungan atau iuran dari masyarakat setiap menghadiri pengajian baik berupa uang maupun beras se ridhonya, yang kemudian dikumpulkan untuk menolong masyarakat yang membutuhkan dengan cara dipinjamkan sebagai dana sosial berbentuk pinjaman. Akan tetapi pada kenyataannya berbagai upaya tersebut tidaklah berjalan dengan mulus, banyak hambatan dan tantangan yang harus dihadapi.

Dalam memperjuangkan masalah-masalah perempuan, tantangannya kerapkali muncul dari masyarakat itu sendiri. Sebagian masyarakat tidak mengerti dan faham akan kebersamaan dan pentingnya berkelompok. Selain itu untuk masalah KDRT sulitnya untuk memberikan penyadaran kepada kaum laki-laki yang menjadi pelaku sekalipun saudaranya sendiri.

“Untuk Bale Istri Paseh, semua anggota yang suka datang mengikuti kegiatan Bale Istri, janganlah bosan-bosan untuk selalu bersama dan mengikuti setiap pertemuan di bale istri. Jangan berhenti, jangan terlalu bergantung kepada koordinator, mulailah dengan kesadaran akan pentingnya berkelompok sehingga segala permasalahan akan mudah untuk diatasi,” ucap Hojanah menghimbau dan memberi saran pada Bale Istri di wilayah tempat tinggalnya.

Untuk Bale Istri lainnya, lebih lanjut beliau menghimbau agar jangan pernah kenal lelah, tetap semangat. Karena apa yang kita lakukan adalah bagian dari tugas kemanusiaan yang harus kita pertahankan,” ucapnya. Menurut beliau, Dalam mekanisme kerjanya, Bale Istri mengemban tugas seperti PKK yang ditugaskan oleh pemerintah. Bedanya kita (Bale Istri–red) bersifat independen, dan anggarannya tidak dibebankan kepada APBD alias mandiri. Lebih lanjut beliau mengatakan, pada dasarnya Bale Istri menjalankan tugas yang dilakukan oleh PKK, dalam hal ini sebagai mitra PKK, sehingga bisa membantu pemerintah dalam mengatasi berbagai permasalahan yang ada di masing-masing wilayah.

Selain itu, beliau berharap kepada pemerintah supaya lebih peduli kepada perempuan, khususnya untuk pemberdayaan perempuan. Karena menurtut Hojanah, Bale Istri saat ini merupakan sebuah gerakan yang memberikan penyadaran kepada masyarakat akan pentingnya berkelompok, sehingga pemerintah diharapkan memberikan dukungan untuk kegiatan di masyarakat baik moril maupun materil. “Lebih khusus lagi pemerintah supaya peduli kepada permasalahan KDRT karena selama ini masalah KDRT masih dianggap tabu sehingga sosialisasipun harus dilakukan ditingkat pemerintah setempat,” ungkapnya. *

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *