Press "Enter" to skip to content

Kampanye JITU 2014 : Upaya Mencerdaskan Pemilih; Untuk Pemilu Berkualitas

MENJELANG Pemilu Legislatif 2014, tepatnya pada tanggal 23 Maret. Komnas Perempuan Bersama Sapa Institut mengadakan Kegiatan Kampanye JITU di Kabupaten Bandung berlokasi di Gedung Graha Wirakarya Ciparay.

Menurut Enna Siti Rohmah selaku Ketua Pelaksana, Kampanye JITU ini bertujuan untuk memberikan panduan kepada Pemilih bagaimana caranya untuk menentukan pilihan pada Pileg nanti. Selanjutnya Enna mengatakan Bahwa JITU itu merupakan sebuah strategi dan panduan untuk memilih dengan baik. Yaitu Pemilih Harus Jeli dalam memilih caleg, Inisiatif mencari informasi tentang caleg, Toleran dalam arti pastikan caleg yang dipilih adalah orang yang toleran dan menghargai kebhinekaan dan terakhir adalah Ukur yaitu pemilih harus bisa mengukur apakah program-program caleg itu realistis atau hanya sekedar Janji belaka.

Format Kegiatan Kampanye ini sendiri adalah Diskusi Musikal. Hal ini dilakukan agar peserta yang mayoritas anak muda tidak jenuh dalam mengikuti kegiatan. Dalam Diskusi musical ini dimeriahkan oleh Group Band Simpony. Group Band Symponi sendiri adalah Band anak-anak muda yang peduli dengan isu kekerasan dan Kebhinekaan.

Selain di isi group band Symponi, acara ini di hadiri oleh 2 narasumber utama yaitu Ketua KPU Kab. Bandung (Atip Taryana) dan dari Komnas Perempuan dalam hal ini di wakili oleh Sapa Institut ( Ridwan Faridz).

Dalam pemaparannya, Ridwan Faridz menyampaikan bahwa Pemilih Pemula merupakan kekuatan yang besar yang bisa menentukan siapa pemenang dalam Pileg nanti. Menurut data KPU sekitar 20-25 % Pemilih dalam Daftar Pemilih Tetap adalah kelompok pemilih pemula.

Selanjutnya Faridz menyampaikan bahwa saat ini kondisinya masih banyak pemilih pemula yang kurang informasi tentang pileg bahkan belum tahu siapa yang harus di pilih nanti. Berdasarkan hal ini, Maka Komnas dan Sapa Institut berinisitaif melakukan Kampanye Jitu. Melalui Kampanye Jitu ini diharapkan pemilih pemula memiliki panduan yang jelas dalam menentukan pilihannya nanti. Jangan sampai pemilih pemula terjebak dengan arus money politik dan gerakan golput yang membahayakan bagi demokrasi di Indonesia ini.

Dalam akhir presentasinya Faridz mengajak pemilih pemula untuk tidak golput dan untuk berani menolak sogokan/money politik dari para caleg. Karena dengan berani menolak money politik dan memilih caleg yang benar, Maka Pemilih Pemula berjasa besar dalam menciptakan perubahan dan minciptakan pemimpin berkualitas.

Sementara itu, Atip Taryana mengungkapkan bahwa sosialisasi untuk pemilih pemula memang belum maksimal. Hal ini dikarenakan minimnya anggaran untuk sosialisasi. Kendatipun demikian, Ketua KPU ini Optimis bahwa pemilih pemula tidak akan golput, karena walaupun sosialisasi minim. Ia yakin bahwa pemilih pemula sekarang sudah kritis dan terbantu oleh media social termasuk iklan-iklan pemilu di Televisi. (Adenk)*

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *