Press "Enter" to skip to content

Memberdayakan Perempuan Lewat Festival Kampung

TAK SEPERTI biasanya, Jumat (27/02) pagi itu, halaman Kantor Desa Cikawung, Kecamatan Tanjungsiang, Kabupaten Subang sudah ramai oleh ibu-ibu. Di depan kantor, enam tenda berdiri sesuai dengan jumlah RW di desa itu. Masing-masing tenda dilengkapi dengan alat timbang balita dan meja.

Pada hari itu, kegiatan penimbangan balita dan pemeriksaan ibu hamil bulanan memang sengajadipindahkan ke balai desa. Biasanya, kegiatan yang rutin digelar sebulan sekali itu dilakukan di tiap posyandu RW. Penimbangan balita di balai desa hari itu demi meramaikan acara Festival Kampung Peningkatan Kesehatan Ibu dan Anak.

Festival ini diselenggarakan SAPA Institut sebagai puncak kegiatan Komunitas Kreatif di Cikawung, yang digulirkan sejak Desember 2014. Program ini merupakan hasil kerja sama SAPA Institut dengan Yayasan Kelola, PNPM Support Facility, Program Nasional Pemberdayaan (PNPM) Mandiri Perdesaan (MP), serta Generasi Sehat Cerdas (GSC). Semua hasil pelatihan dalam rangkaian kegiatan tersebut dilombakan di festival ini.

Lomba yang digelar adalah olah masakan, cerdas cermat, pasangan ideal, pidato, sampai dengan kreasi seni. Sehari sebelumnya, festival dibuka dengan pawai kampung yang meriah dan gerak jalan santai yang diikuti warga Desa Cikawung.

Dindin Syarifudin dari Divisi Pendampingan Komunitas SAPA Institut mengatakan kegiatan Komunitas Kreatif dimaksudkan untuk membentuk komunitas-komunitas mandiri, khususnya di kalangan perempuan. Bedanya dengan kegiatan serupa lainnya, mereka memakai pendekatan seni dan kreativitas untuk meraih kelompok sasaran.

“Misalnya, pada saat mengampanyekan isu-isu kesehatan ibu dan anak, kami dorong mereka menggunakan kesenian setempat, seperti dogdog,” ujar Dindin.

Dogdog sebetulnya adalah bagian dari kesenian Reog Sunda. Dogdog atau gendang ditabuh mengiringi gerak tari yang lucu dan lawak oleh para pemainnya. Sejak dulu, masyarakat Sunda memanfaatkan Reog untuk menyampaikan pesan-pesan sosial dan keagamaan.

Kaum perempuan juga didorong untuk menyuarakan pendapat, serta memberdayakan diri lewat berbagai bentuk kesenian dan kreativitas. SAPA Institut mencoba memasangkannya dengan program-program yang lebih dulu mereka jalankan sebagai lembaga yang berfokus pada isu-isu perempuan, khususnya hak seksual dan hak kesehatan reproduksi, serta antikekerasan.

Bekerja sama dengan para kader posyandu Cikawung, selama kurang lebih 3 bulan, SAPA Institut memberikan berbagai pelatihan kepada perempuan desa itu tentang kesehatan reproduksi, cara mengolah masakan padat gizi, serta membantu mereka mengidentifikasi Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan kekerasan seksual.

Salah seorang kader posyandu, Nurur Rohaeni berkisah, awalnya ibu-ibu hanya menjadi pendengar pasif dalam pertemuan. Mereka jarang sekali berinteraksi dengan fasilitator.

“Namun setelah caranya diubah, mereka jadi lebih berani dan santai dalam menyampaikan pendapat atau pertanyaan. Pertemuan tidak lagi dilakukan dengan cara berhadapan, antara fasilitator dan peserta, tapi dengan cara ngariung, melingkar, lesehan di lantai, tak berjarak,” kata Nurur.

Lewat pelatihan, kaum ibu dan perempuan mulai mengenali tindakan-tindakan yang tergolong KDRT. Selama ini, yang mereka anggap sebagai KDRT hanyalah sebatas kekerasan fisik, seperti ditampar suami. Mereka baru tahu ternyata KDRT bisa lebih luas dari itu, misalnya saja pemaksaan hubungan badan oleh suami, di saat istri sedang sangat lelah atau yang diidentifikasi pula sebagai kekerasan seksual.

Yang juga baru mereka sadari sebagai KDRT adalah bentuk-bentuk kekerasan psikis dan kekerasan ekonomi. Kekerasan psikis ini misalnya pasangan terlalu mengendalikan, memanipulasi, merendahkan, atau sewenang-wenang, baik dalam tindakan maupun ucapan. Sementara kekerasan ekonomi meliputi berbagai tindakan mengeksploitasi, memanipulasi, dan mengendalikan pasangan lewat sarana ekonomi, misalnya memaksa pasangan bekerja dengan eksploitatif, termasuk pelacuran. Menjadikan pasangan tergantung atau tidak berdaya secara ekonomi pun tergolong KDRT.

Jika sudah ada kejadian seperti ini, kaum ibu yang sudah mendapatkan pelatihan, mampu mengidentifikasinya sebagai KDRT dan tahu ke mana harus melapor. Mereka juga diharapkan dapat menjadi sumber informasi dan pendamping korban KDRT.

Pelatihan memasak bertujuan memberdayakan kaum ibu di Cikawung. Dengan memanfaatkan bahan lokal, seperti labu kuning, jambu biji, ubi kuning, dan jagung, para ibu dilatih membuat kue dan puding. Harapannya, kelak mereka dapat memanfaatkan keterampilan ini untuk berjualan dan menjadikannya sebagai salah satu sumber penghasilan keluarga.

Kepala Desa Cikawung Nono Heryana merasa sangat terbantu dengan adanya program Komunitas Kreatif ini di desanya.

“(Program ini) sangat bagus. Kalau tidak ada kegiatan ini, seperti pemeriksaan ibu hamil, penimbangan balita, pelatihan makanan sehat, KDRT, kami tidak akan tahu ilmu-ilmu itu. Sekarang kader-kader sudah tahu dan bisa mempraktikkan,” kata Nono.

Camat Tanjungsiang pun, ujar Nono, bahkan meminta agar kegiatan serupa, terutama seputar kesehatan ibu hamil dan balita, diadakan pula di desa-desa lain.

Menurut Dindin, SAPA Institut sebetulnya ingin memperbanyak pelibatan peran laki-laki dalam kegiatan ini. Selama ini peran laki-laki dalam terbilang kurang karena menganggap isu kesehatan identik dengan kaum perempuan.

“Kendalanya adalah keterbatasan waktu dan laki-laki masih menjadi pencari nafkah dominan dalam keluarga. Banyak kepala keluarga di Cikawung bekerja di luar kota sebagai pekerja kontrak, sehingga jarang sekali ada di rumah dan tidak dapat hadir dalam undangan pelatihan,” kata Dindin.

Dalam penyuluhan pasangan ideal, misalnya, dari 30 pasangan yang ditargetkan, hanya 15 pasangan diantaranya yang hadir. Sisanya tidak datang dengan alasan suami bekerja.

Dindin berharap, sepeninggal SAPA Institut dan kegiatan Komunitas reatif, masyarakat Desa Cikawung dapat lebih mandiri, misalnya saja makanan padat gizi dapat dijadikan sumber usaha bagi kader posyandu, sekaligus dimanfaatkan sebagai asupan bagi balita dalam program Pemberian Makanan Tambahan (PMT). Dengan ddemikian, posyandu tidak lagi mengandalkan bantuan pemerintah.

YULITA ROSSA RANGKUTI

FOTO : ADITYA HERLAMBANG PUTRA

 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *