Press "Enter" to skip to content

Menjadi Perempuan Kepala Keluarga

NAMANYA Sugih Hartini, beliau adalah seorang Ibu Rumah Tangga biasa. Bu Sugih Hartini tinggal di sebuah pedesaan yaitu Kp. Pabeyan Desa Cipaku Kecamatan Paseh. Kondisi rumahnya yang jauh dari penduduk lain tidak membuat keluarganya menjadi patah arang. Hari-hari yang dilaluinya tanpa suami tak membuat dirinya menjadi lemah. Bu Sugih tinggal bersama 3 orang anaknya yang masih membutuhkan perhatian dari seorang ayah. Namun, nasib telah berkata lain pada saat usia pernikahannya menginjak 10 tahun suaminya yang sangat ia cintai telah berpaling dengan perempuan lain.

Pada saat itu hatinya hancur luluh-lantak ketika mendengar suaminya telah menikah lagi. Pada saat itu beliau merasa bingung dan terpuruk karena kalau sampai pernikahannya berakhir bagaimana dengan nasib anak-anaknya memutuskan untuk memilih dipoligami atau bercerai, sangatlah berat. Namun beliau mempunyai tekad dan memutuskan untuk bercerai dengan suaminya. Pada akhirnya beliau pun kembali kepada orang tuanya dengan 3 orang anaknya. Semenjak itu beliau pun sering murung di rumah dan jarang sekali keluar rumah.

Singkat cerita di daerahnya sekarang tinggal, beliau sering di ajak oleh ibu-ibu setempat untuk mengikuti kegiatan-kegiatan Bale Istri (BAIS) yang dibentuk oleh Sapa Institut. Pada awalnya beliau tidak mau mengikuti kegiatan Bale Istri apalagi kalau hanya untuk memperbincangkan kondisinya yang sedang sakit hati. Setelah sekian lama salah seorang anggota Bale Istri yang juga bibinya, Bu Agah, mengajak beliau untuk mengikuti kegiatan Bale Istri dan akhirnya beliau pun mau mengikuti kegiatan Bale Istri.

“Ketertarikan saya di Bale Istri, karena disitu berbicara tentang KDRT, disitu saya bisa sharing, silaturahim, tukar pengalaman, ibu-ibu korban bisa saling menguatkan, karena ternyata saya merasa tidak sendiri, ternyata banyak yang mengalami kasus yang lebih memprihatinkan dari persoalan yang saya alami,” ungkap Bu Sugih.

Setelah Bu Sugih mengikuti kegiatan Bale Istri, ada perubahan yang berbeda, yang tadinya hanya diam termenung dan tidak mau keluar rumah, sekarang beliau sudah bisa mulai menata kembali hidupnya dan mulai merintis sebuah usaha untuk membiayai ketiga anaknya. “Dengan adanya Bale Istri saya sangat terbantu, terutama saya pribadi dan keluarga, saya bisa bangkit, yang dulunya saya korban, saya sekarang bisa mandiri dengan pemberdayaan ekonomi. Yang paling tertarik, Sapa Institut sering mengadakan pelatihan bagi ibu-ibu Bale Istri, ada hiburannya juga, itu membuat saya lebih tegar, lebih mandiri, lebih bisa bangkit dari keterpurukan. Manfaatnya Bale Istri banyak, selain kita bertambah ilmu, bertambah wawasan, bertambah teman dan pengalaman, kita juga bisa saling menguatkan dan berbagi,” tuturnya.

Usaha yang di rintisnya adalah memproduksi kiripik singkong, modal awal yang diterima Bu Sugih hanya sekitar Rp 3.000.000, itu pun berupa pinjaman dari Sapa Institut. Semakin ke sini usahanya pun mulai menjangkau pasar luas dan sampai saat ini pun banyak yang sudah mengenal keripik singkong buatan Bu Sugih. Bahkan nama produk keripik yang dihasilkannya menyertakan nama Bale Istri yaitu “BAIS MANTAP”.

Dengan bantuan ketiga anaknya, kini Bu Sugih mendapatkan penghasilan dari produksi makanan keripik singkong yang ia olah dan kelola sampai saat ini. Bahkan, pada tahun 2014, perempuan kepala keluarga ini mendapatkan penghargaan Sabilulungan Award dari Bupati Bandung sebagai Penggerak Pembangunan Bidang UKM dan Pemberdayaan Perempuan. * (Nonok Faridah)

 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *