Press "Enter" to skip to content

Sapa, Kampus Kehidupan

Oleh: Ati Suandi
(Psikolog)

Bergabung dalam aktifitas sapa Institut seperti masuk dalam dunia kampus dengan mahasiswa yang hidup dalam dunia ideologi yang masif. Penuh perjuangan, keberanian dan mau menghadang rintangan apapun. Menyenangkan walaupun seringkali tidak realistis, semangat dalam berjuang melawan kekerasan terhadap perempuan, indah dalam kata-kata tidak seindah dalam realitanya. Melawan kekerasan terhadap perempuan, berhadapan dengan banyak perempuan yang jadi korban dari pasangannya sendiri, terseok mencari jalan keadilan yang sulit didapat dan perih dalam mencari sebuah kebahagiaan.

DARI tahun ke tahun angka kekerasan tidak pernah berniat turun jumlahnya. Yang terjadi seringkali meningkat, bahkan ketika UU PKDRT disahkan di tahun 1984. Ada apa dengan hidup perempuan????… Untuk mencari kedamaian dan kebahagiaan sepertinya selalu sulit didapat. Apalagi di daerah miskin dan daerah transisi seperti di Kabupaten Bandung. Banyak orang, komunitas dan lembaga mulai jenuh dan cape menangani kekerasan terhadap perempuan. Kehabisan energi manakala korban yang datang tidak pernah mengenal waktu, datang silih berganti padahal yang datang sebelumnya pun belum selesai. Korban KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) jarang selesai dalam hitungan minggu bahkan bulan. Yang sering terjadi korban baru bisa selesai dengan masalahnya dan bertahan dalam hitungan tahun, minimal 2 tahun. Kompleksnya persoalan dan rentannya korban terhadap tekanan membuat para pendamping harus punya ketahanan ekstra dalam menghadapi korban-korban kekerasan.

Bagaimana dengan SAPA? Dengan nama yang seringkali diplesetkan jadi SAFA (karena orang sunda sering kebalik-balik antara hurup P dan F) terus bertahan menghadapi korban-korban KDRT. Hidup bersama masalah korban dan mendampingi korban tidak hanya butuh pegetahuan dan kemampuan, tetapi juga kematangan emosional para pendampingnya. Kadang-kadang terbawa dengan masalah korban. Rasa prihatin dan keinginan kuat untuk menolong, terkadang membuat korban bukan terbantu tetapi malah menjadi tergantung, membiarkan korban utuk bertindak mandiri, seringkali dianggap mengabaikan korban. Inilah tantangan yang menarik ketika melakukan pendampingan korban

Membantu korban pulih artinya membantu korban mengembangkan potensinya yang hampir hilang, membuatnya percaya diri bahwa dia mampu bertahan hidup, bisa melawan dan mencegah kekerasan yang dialaminya. Korban adalah pribadi yang mandiri dan pendamping hanyalah cermin ketika korban membutuhkan keyakinan tentang dirinya. Korban bukan pendamping dan pendamping bukan korban…. inilah pekerjaan tersulit yang dilakukan oleh Sapa dalam perjalanannya memasuki tahun ke 6.

Selain proses pendampingan secara individual terhadap korban, hal sulit lain yang dilakukan oleh Sapa adalah mengembangkan kesadaran komunitas untuk membantu korban keluar dari rantai kekerasannya. Komunitas atau lingkungan sekitar dapat menjadi kontrol untuk pelaku supaya dapat mencegah korban mengalami kekerasan yang tidak berkesudahan. Menggugah kesadaran komunitas, bahwa kekerasan terhadap perempuan bukanlah kesalahan dari korban bukanlah perkara yang mudah. Budaya dan dan sistem nilai yang berlaku yang menganggap kekerasan terhadap perempuan adalah hal yang biasa, tingkat pendidikan perempuan yang masih rendah, akses kesehatan yang masih rendah dan faktor kemiskinan masih menjadi faktor-faktor kekerasan terhadap perempuan menjadi sulit untuk dicegah.

Hal lain yang juga masih terjadi adalah persoalan kekerasan terhadap perempuan adalah masalah domestik, masalah rumah tangga seseorang yang tidak boleh diintervensi oleh pihak lain. Perjuangan beberapa tahun yang dilakukan Sapa dalam mensosialisasikan UU PKDRT dengan pendekatan budaya lokal patut diberikan apresiasi. Merubah budaya adalah merubah sejarah dan sistem nilai yang berlaku. Selama ini diakui budaya patriarki adalah nilai yang paling banyak dianut oleh sebagian besar masyarakat dan menjadi acuan seseorang dalam bertingkah laku. Budaya patriarkis menganut apa yang dilakukan oleh lelaki adalah yang paling benar bahkan ketika dia melakukan kekerasan terhadap istrinya sendiri.

Perjuangan dan pengorbanan Sapa oleh para personilnya yang masih muda bahkan ada yang belum punya pengalaman dalam relasi perkawinan seringkali menjadi bumerang dalam melakukan sosialisasi ini, karena dianggap belum memiliki pengalaman dalam urusan rumah tangga. Bagaimana bisa pendamping yang belum pernah menikah bisa memberikan bantuan pendampingan dan konseling kepada korban dan pelaku kekerasan dalam rumah tangga???? …..

Informasi dan pengetahuan mengenai kekerasan terhadap perempuan tidak cukup memberikan bekal bagi para pendamping. Banyak hal lain yang harus dipelajari dengan lebih mendalam oleh para pendamping Sapa seperti budaya lokal, agama yang dianut, pendekatan terhadap tokoh masyarakat dan tokoh-tokoh agama, dan bekerja sama dengan stakeholder yang terkait menjadi mutlak dilakukan oleh para pendamping untuk membantu korban dan melakukan pendekatan terhadap pelaku kekerasan.

Tidak boleh lelah dan bosan, apapun bisa dilakukan untuk mengurangi bahkan mencegah kekerasan terhadap perempuan terjadi. Keinginan yang kuat, mimpi yang tinggi dan harapan yang besar untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan menjadi semangat yang terus dijunjung oleh para pendamping di Sapa Institut, kadang terbanting, terjatuh tetapi terus berjalan walapun tertatih untuk bisa membantu korban kekerasan.

“Semoga di Ulang Tahunnya yang ke 6, Sapa tetap memiliki kepedulian untuk banyak perempuan yang masih mencari keadilan, mencari kemerdekaan untuk hidupnya, bebas dari kekerasan dan mampu bertahan hidup dalam kondisi sesulit apapun.” Two tumbs up!!!! []

 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *