Press "Enter" to skip to content

Sri Mulyati; Mendorong Lahirnya Bale Istri, Bale Laki-Laki dan Bale Remaja

Di mana tempatnya bila perempuan ingin bebas dan terbuka membicarakan persoalan-persoalan perempuan, entah itu soal rumah tangga, reproduksi hubungan seksual, KDRT, dan sebagainya? Di enam kecamatan di Bandung, di sekitar 10 desanya, bisa dilakukan di Bale Istri.

Seperti namanya, Bale Istri memang dibangun sebagai tempat komunitas ibu-ibu berkumpul. Salah satu penggagasnya adalah Sri Mulyati, yang kini menjadi direktur Sapa Institut.

Bermula ketika masih di kampus Sri Mulyati dan beberapa teman mendirikan Kajian Studi Perempuan yang concern dengan isu gender, Islam dan feminisme, kemudian ketika program kampus ke masyarakat, ia melihat realitas banyaknya persoalan perempuan. Ada KDRT, kesehatan reproduksi, trafficking, dan sebagainya. Angka yang terdata cukup tinggi, apalagi yang tidak terdata, pikir Sri. Selulus kuliah IAIN Sunan Gunung Jati Bandung, Sri meneruskan lembaga studinya. Jadilah Sapa Institut, yang mendorong perempuan basis untuk membentuk Bale Istri guna menjembatani persoalan-persoalan perempuan sendiri.

Agar balenya berjalan, Sri mendorong ibu-ibu, kader Posyandu, PKK, tokoh masyarakat mendukung Bale Istri. Bahkan, ia dan empat kawannya mengetuk pintu setiap rumah di Kecamatan Paseh dan menceritakan program tersebut. Ternyata gayung bersambut, bahkan ada beberapa laki-laki seperti di Kecamatan Arjasar dan Ciparong yang mau mendukung dan terlibat. Bahkan ikut membidani kelahiran Bale Istri.

Dari Bale Istri Kecamatan Paseh, lalu bergulir muncul di kecamatan-kecamatan lainnya hingga total ada 6 kecamatan dan 10 desa mendirikan Bale Istri.

Setelah itu, muncul inisiatif untuk mendirikan Bale Laki-laki. Kata Sri, karena mereka melihat ada resistensi tinggi dari laki-laki yang menganggap tempat istri itu di rumah. Adanya Bale Laki-laki, maka laki-laki bisa melakukan proses penyadaran pada laki-laki lainnya bahwa persoalan ibu dan anak bukan semata tanggung jawab perempuan. Bahkan laki-laki berperan besar dalam menekan Angka Kematian ibu dan Anak (AKI-AKA) Dan bila Bale Laki-laki bisa berjalan, diharapkan akan menjadi supportgroup bagi Bale Istri dan Bale Remaja.

Memang ada penolakan pada Bale Laki-laki. Tapi lebih pada omongan miring seperti “nunutur bujur awewe” ikut-ikut seperti perempuan aja. “Tapi sekarang sudah diterima. Dukungan laki-laki pada Bale Istri kini sudah cukup besar,” ujar Sri yang akhirnya menginisiasi Bale Remaja, tempat remaja membicarakan persoalan-persoalannya seperti pernikahan dini, kesehatan reproduksi, hingga masalah kekerasan. (*)

Sumber: Majalah Wanita Kartini, Edisi Perempuan Inspiratif, April 2012