Press "Enter" to skip to content

Tundung Hastuti; Tergerak Turunkan Angka Kematian Ibu & Bayi

Angka Kematian Ibu dan Anak (AKIdanAKA) setelah melahirkan di desanya, Desa Mapun Baru, Kecamatan Pamenang, Kabupaten Merangin, Jambi, yang cukup tinggi membuat Tundung Hastuti tergerak melakukan sesuatu.

Awalnya ia heran melihat di lingkungan terdekatnya, setiap bulan ada 1 atau 2 yang meninggal setelah dilahirkan. Ia tergerak mencari tahu penyebabnya, dan mendapat kenyataan, itu terjadi akibat bayi kekurangan gizi atau ibunya alami perdarahan karena terlambat dibawa ke tempat bersalin. Yang membuatnya miris, penyebabnya bukan sekadar karena kondisi ekonomi keluarga yang memang miskin, lebih karena para suami mementingkan untuk beli rokok atau untuk berjudi dibanding menambah lauk-pauk keluarga. Atau karena suami tidak peduli istrinya akan melahirkan, padahal jalan ke tempat persalinan sangat jauh.

Tundung, transmigran dari Banjarnegara, Jawa Timur itu lalu konsultasi ke PKBI untuk mendapat pendampingan. Waktu itu sekitar tahun 1998-an, tenaga bidan masih langka. Setelah didampingi, Tundung dan kawan-kawannya melakukan sosialisasi ke warga desa bagaimana agar kehamilan sehat, ibu dan bayi selamat.

Ketika terjadi pemekaran desa, yang dirintisnya menyebar ke 8 desa. Pada 2003, Tundung mendirikan Aliansi Perempuan Marangin (APM) yang meluas lagi aktivitasnya: mendampingi korban KDRT. Kini sudah 14 desa di 5 kecamatan Kabupaten Marangin menjadi jaringannya. Rata-rata memiliki crisis center, tempat perempuan diskusi hingga penanganan dan pendampingan korban KDRT. Tundung kini Wakil Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2TP2A). (*)

Sumber: Majalah Wanita Kartini, Edisi Perempuan Inspiratif, April 2012